Desclaimer: Naruto by Masashi Kishimoto | Uchiha Yuki-chan
Ch 2. The Necklace of Hope
Naruto
melangkahkan kaki dengan pandangan mata yang sendu. Sekalipun kedua matanya
tampak menatap ke arah depan, namun rasanya jiwa pemuda itu sama sekali tak
berada di raganya. Terbang. Entah kemana.
"Kau
harus mengatakan semua ini pada keluargamu, Teme," ujar Naruto lesu, mirip
sebuah keluhan. Saat semua yang ia pikirkan berakhir sia-sia. Saat tak ada lagi
cara lain untuk mengatasi permasalahan penting dari sahabatnya yang juga tengah
berjalan di sampingnya itu.
"Buat
apa, sih?"
Pemuda
dengan berambut hitam itu hanya menjawab singkat. Ia malah sempat mencibir saat
menanggapi saran Naruto barusan.
Ya, buat
apa ia melakukan saran bodoh itu? Sekalipun jika Sasuke benar-benar
menurutinya, apa yang akan berubah? Toh lelaki tua itu tetap
akan memilih wanita sialan itudaripada anaknya sendiri. Jadi, untuk
apa dia harus melakukan hal yang jelas-jelas sia-sia? Selama Sasuke masih bisa
bernafas, ia tak akan pernah membiarkan siapapun tahu akan semua ini. Kecuali
Naruto tentu saja. Selama jantung ini masih bisa berdetak, Sasuke akan terus
menyimpan semuanya hingga ke ujung nafasnya. Dan selama nadi ini berdenyut, ia
akan menanggung semua ini sendiri.
Ya,
sendiri. Memangnya siapa lagi yang selama ini selalu berada di dekatnya seumur
ia hidup? Tak ada, bukan?
"Tapi
Teme, setidaknya lihatlah Ayahmu. Kau harus memberitahunya," Naruto masih
mencoba menawar. Masih mencoba melelehkan bekuan es dalam hati yang dingin itu.
"Justru
karena dia Ayahku, aku tak sudi memberi tahu siapapun."
"Tapi
dia tetap Ayahmu. Aku tak yakin dia masih bisa tega saat melihat kauter…"
"Bisakah
kaudiam, Uzumaki?!" bentak Sasuke seraya menghentikan langkahnya.
Ditolehnya
Naruto yang juga berhenti melangkah. Ditatapnya Naruto dengan pandangan tajam
hingga membuat mulut yang biasa mengoceh itu terkatup sempurna.
Sasuke
menghela nafas. Sedikit menyesal dia telah bersuara kasar pada kawannya itu.
Bukankah selama ini hanya Naruto yang tahu semuanya? Bukankah sekian lama
Naruto sudah mendukungnya?
"Biarkan
semua seperti ini saja, Naruto," ujar Sasuke lirih dengan kembali
melangkahkan kedua kakinya.
Naruto
masih terpaku. Ia tetap berdiri memandang punggung Sasuke yang perlahan
menjauh.
Jika Naruto
adalah seorang perempuan, pasti ia sudah menangis tersedu. Jika ia bukanlah
lelaki, pasti ia sudah terpuruk dalam.
Naruto
mengalihkan pandangannya ke bawah. Ditatapnya lantai putih dari koridor rumah
sakit itu.
Sampai
kapan semua ini akan terjadi? Kapan semua ini akan berakhir? Sampai kapan
persahabatan ini akan tetap terjalin, Tuhan?
-oOo-
Hari terasa
terang dan cerah. Matahari tampak berpijar ganas di atas sana dan mencurahkan
segenap sinarnya pada Bumi untuk melanjutkan kehidupannya. Beberapa orang
memilih untuk berdiam diri di tempat yang nyaman. Menyelamatkan kulit mereka
dari kondisi luar yang sungguh tak bersahabat. Merasakan sejuknya hembusan
udara dingin AC adalah salah satu hal terbaik.
Namun tidak
bagi sejumlah remaja di lapangan basket sana. Tuntutan pelajaranlah yang
memaksa mereka untuk membakar diri di pagi yang seharusnya lebih pantas disebut
siang ini.
"Next,
Uzumaki dan Lee!" teriak satu-satunya manusia yang berusia separuh baya
dan satu-satunya lelaki yang dengan egoisnya memilih berdiam diri di bawah
pohon beringin saat para murid bimbingannya seolah mempertaruhkan nyawa di tengah
lapangan basket sana.
"Naruto!!
Ayo!" teriak beberapa anak lelaki saat pemuda berambut pirang itu berdiri
dari duduknya dan bersiap di garis start.
"Lee!
Kalahkan tuh anak!" teriak yang lain menyemangati peserta satunya.
"Naruto!
Kau pasti bisa! Kau 'kan biasa kabur dan lari langkah seribu kalo ketahuan
manjat pagar sekolah!!!"
Kedua
pemuda itu sudah bersiap pada posisinya. Sekalipun mereka sama sekali belum
melakukan apa-apa, namun rasa panas udara rasanya sudah menurunkan energi
mereka sebesar 50 persen. Peluh keringat sudah bermunculan di wajah kedua
peserta. Bahkan baju olahraga Naruto sudah basah kuyup seolah baru dicelup
dalam mesin pencucian.
Saat suara
peluit terdengar, kedua tubuh itu segera melesat ke depan. Berlari sekuat
mungkin. Sebisa mungkin untuk menuju garis finish dengan waktu tersingkat. Rasa
ego seorang lelaki tak membiarkan salah satu dari mereka mau kalah dan mau
mengalah. Hanya ada dua pilihan kata yang menanti mereka. Pemenang. Atau
pecundang.
"YEEEE!!!"
Teriakan
suka cita dan tepukan tangan serentak terdengar saat pemuda berambut
dengan style mirip mangkuk terbalik dan berwarna hitam terlalu
mengkilap itu, melangkahkan kaki memasuki garis finish di mana rivalnya masih
satu langkah lebih lambat darinya.
"Ini
hanya tes pelajaran, Naruto," ujar pemuda berambut hitam pekat itu jemu
saat sahabatnya itu duduk di sampingnya dengan raut kesal dan melipat kedua
tangan di dada, kebiasaan jika dia merasa kalah. "Sekalipun kaumenang, tak
ada siapapun yang menyambut kemenanganmu."
Ya! Mungkin
bagi Sasuke pelajaran olahraga adalah hal yang tidak penting. Apa sih hebatnya
mendapat nilai bagus di bidang yang hanya mengandalkan fisik seperti itu?
Kauakan tetap naik kelas dan lulus sekalipun nilaimu dalam pelajaran itu paling
rendah.
Tapi bagi
Naruto lain. Satu-satunya hari yang selalu dinantinya adalah hari Selasa, saat
di mana ia bisa berada di luar ruangan kelas. Saat di mana tak ada papan tulis,
tak ada deretan rumus dan teori yang harus ia hafalkan di luar kepala. Saat ia
bisa menggunakan fisiknya daripada otaknya. Naruto bangga! Oleh karena itu,
perasaan kesal otomatis ia rasakan begitu pemuda bernama Lee itu berhasil
mengungguli dirinya. Perasaan merasa sebagai pecundang yang bahkan bisa
terhempas hanya dalam lomba lari 200 meter, kini ia rasakan. Mungkin terdengar
hiperbola, namun itulah perasaan Naruto.
Benci akan
kekalahan. Muak akan ketidakmampuan.
"Lagipula,
terang saja kaukalah dengan Lee. Kau kurang semangat," ujar Sasuke lagi
seraya menyandarkan punggungnya pada tiang ring basket.
Jika Naruto
tak sedang kesal, pasti ia akan bisa merasakan perbedaan pada nada dan
kata-kata yang diucapkan Sasuke.
Menghibur.
Menenangkan. Dua hal yang jarang bahkan mungkin tak pernah ada di kamus
kehidupan Uchiha itu.
"Next,
Uchiha dan Inuzuka!"
Sorak sorai
kembali terdengar. Kali ini lebih riuh. Tentu saja kebanyakan dari suara anak
perempuan yang mendiamkan diri di tempat parkir guru yang teduh di sana. Dan
tentu pula, yang membuat mereka bisa berteriak terlalu keras pada cuaca keras
begini karena pemuda berklan Uchiha itu.
"Huh,"
ujar Sasuke sembari menghela nafas lirih dan mulai beranjak berdiri. Namun baru
ia menegakkan tubuhnya, sebelah tangannya dicekal oleh Naruto.
Saat Sasuke
menatap ke bawah, memandang wajah dari Naruto yang masih terduduk di lantai,
Sasuke mendapati kedua bola mata beriris biru langit itu menatapnya ragu.
Menatapnya cemas. Mencoba mengucapkan Jangan lewat pandangan
matanya.
Namun
sia-sia.
Naruto
hanya bisa mengamati dengan hati yang terus mengucapkan doa pada sahabatnya
yang sudah berjongkok di garis start sana.
'Treat
me the way you treat others'
Ucapan
Sasuke saat itu kembali terngiang di telinga Naruto.
Sekalipun
Sasuke meminta demikian, tapi bagaimana bisa Naruto melakukannya? Bagaimana
Naruto seolah-olah melupakan apa yang tengah dialami oleh sahabatnya itu?
Sedangkan
Sasuke terdiam sembari menunggu suara peluit tertiup. Ia menatap lurus kedepan.
200 meter. Jarak yang tak jauh tentu saja.
Sasuke
menggigit bibir bawahnya. Apakah dirinya mampu melewati jarak pendek itu tanpa
harus….
Suara
peluit terdengar.
Sasuke
segera melesat ke depan. Pemuda bernama Inuzuka Kiba juga tengah berlari
menyainginya.
Sasuke
mempercepat langkahnya. Ditatapnya garis finish di depan sana.
Ia tak akan
kalah.
Sudah cukup
hidupnya penuh derita, sudah cukup hidupnya penuh kemuakan. Ia tak akan kalah
kali ini. Sedikit saja, ingin ia rasakan kemenangan. Sejenak saja, ingin ia
mengalahkan kutukan dalam tubuh ini. Siksa neraka dunia yang kini bersemayam
dalam dirinya. Ia hanya ingin menang, sekalipun dalam pelajaran
olahraga, tak apa.
Cepat!
Langkahnya semakin cepat. Ia tahu, tubuhnya seakan semakin tak terkontrol.
Seakan kakinya terus berlari tanpa mampu ia hentikan. Secara otomatis saja.
Saat ia berlari, ia tahu pula, jantungnya berdegup kencang. Seakan memerintah
keras agar Sasuke berhenti saat itu juga. Deru nafasnya memburu kuat, seakan
memprotes Sasuke yang memaksa seluruh organnya berkerja dua kali lebih keras.
Dua kali lebih kuat.
Sedikit
lagi. Sedikit lagi kakinya akan menapak di garis finish.
Suara peluit
bersamaan dengan teriakan gemuruh para gadis terdengar menandai berakhirnya
persaingan antara Uchiha dan Inuzuka itu. Sudah dapat ditebak siapa
pemenangnya. Jika Inuzuka, pasti belasan gadis di sana akan bermuka muram.
Naruto
segera berlari menghampiri Sasuke yang masih berdiri dengan membungkuk dengan
menjadikan kedua lututnya sebagai tumpuan kedua tangannya.
Jika orang
lain bahagia akan semua ini, Naruto justru merasakan kecemasan hebat tengah
melanda jiwanya.
"Sasuke,"
Naruto menepuk lengan terbuka Sasuke.
Tak ada
jawaban. Saat melihat wajah Sasuke yang berpeluh hebat, saat mendapati kaki dan
lutut yang menyangga tubuhnya gemetar kuat, saat mendapati bibir tipis itu
bergetar samar, Naruto semakin yakin bahwa apa yang ia cemaskan telah terjadi.
"Sasuke!"
Teriakan
Naruto yang kuat membuat para manusia lain yang berada di lapangan itu segera
menghampiri mereka berdua.
"Kya!!"
beberapa gadis malah berteriak, di antaranya bahkan menangis tertahan saat
melihat bagaimana anehnya keadaan Sasuke.
Jangankan untuk
menjawab panggilan Naruto dan teman-temannya, untuk mencoba menarik nafaspun
Sasuke seakan tak mampu lagi. Ia mendengar semua suara ini. Ia tahu mereka
cemas. Tetapi tubuh ini rasanya tak bisa bergerak. Raga ini seolah tak
mampunyai daya lebih untuk bahkan menggerakkan ujung jaripun!
Rasa itu
diperburuk saat Sasuke merasakan dadanya terasa sakit. Sakit yang sama. Sakit
yang tak berubah sekalipun rasanya ia sudah bosan meminum benda-benda bernama
obat itu. Rasa kutukan ini. Rasa yang sungguh sangat menyiksa dirinya. Seakan
di dalam dadanya tengah berkobar api yang kuat. Api yang melemahkan semua
sarafnya, api yang melumpuhkan kerja organnya. Sakit. Perih.
Aku tak
ingin sekarang, batin Sasuke getir. Jangan di depan mereka.
Namun niat
Sasuke untuk menyembunyikan semua ini terbongkar hari itu saat ia terbatuk
hebat dan dari mulutnya mengeluarkan darah merah pekat.
Sasuke
mendengar pekikan dari orang-orang di sekitarnya. Namun ia tersenyum getir saat
melihat darah yang membasahi telapak tangannya kala ia menyeka mulutnya.
Dan Sasuke
tak tahu bagaimana bisa ia merasakan tubuhnya terasa ringan. Bagaimana seolah
ia rasakan Bumi ini sudah tak memiliki gravitasi yang bisa mengikat Sasuke di
dalamnya.
-oOo-
Sasuke
membuka matanya saat ia mendengar suara isak tangis menyapa telinganya. Meski
ia belum bisa melihat secara jelas, namun ia pastikan bahwa yang tengah tersedu
di atas kursi di samping ranjangnya adalah satu-satunya orang yang tak ingin ia
lihat di dunia ini.
"Sasuke,
kamu sudah sadar, Nak?" wanita itu beranjak berdiri, hendak mendekat ke
Sasuke. Namun ia terpaksa terpaku diam saat Sasuke malah membuang muka,
berpaling darinya.
Sasuke
menghela nafas.
Kenapa
harus dia? Kenapa wanita sialan ini bisa ada di sini? Dan terlebih jauh lagi,
kenapa ia harus dibawa pulang saat dirinya pingsan di sekolah tadi?
Naruto!
Tiba-tiba Sasuke merasakan kekecewaan pada temannya itu. Tidakkah ia ingat
bagaimana bencinya Sasuke berada di rumah ini? Tidak tahukah dia bagaimana
muaknya Sasuke jika bertemu dengan perempuan ini? Tidak mengertikah dia saat
berulang kali Sasuke bilang bahwa ia tak ingin terlihat runtuh di depan
keluarganya? Ia tak ingin terlihat payah. Ia tak sudi dikasihani.
"Pergi,"
ujar Sasuke dingin.
Membuat
wanita yang sudah berada satu atap dengannya selama setengah tahun lebih itu
semakin terisak. Sebelah tangannya menekan dadanya kuat-kuat, mencoba merasakan
sakit atas penolakan yang tak kunjung henti dari pemuda di depannya itu.
Sepi. Tak
terdengar apapun. Hanya suara detak dari jarum jam dinding yang mengisi kesunyian
itu. Jelas. Seolah-olah di ruangan ini sama sekali tak ada kehidupan apapun.
Sasuke
menenggelamkan diri dalam angannya sendiri. Saat ia merasa bahwa dunianya
sekarang mungkin sudah terbalik. Semua mimpi buruknya sudah ada di depan mata
untuk menjadi kenyataan.
Tak hanya
teman-teman sekolahnya yang tahu betapa payahnya dirinya. Bahkan sekarang
keluarganya mungkin sudah tahu betapa ambruk dirinya. Dan mereka akan
mengasihani Sasuke. Dan mereka akan menangisi Sasuke bahkan ketika Sasuke masih
hidup.
Tak ingin.
Sasuke tak butuh itu semua.
Ia
memejamkan mata. Kenapa seolah-olah semua impiannya tak terkabul barang satu
saja? Kenapa semua terjadi secara bertolak belakang dengan apa yang ia
inginkan? Semua tampak sia-sia. Seakan tak ada lagi harapan di dunia ini yang
tersedia untuk Sasuke. Seakan hidup Sasuke hanya untuk menghitung tiap detak
jantung dan hembus nafas yang masih bisa ia lakukan.
Sudah ia
relakan kepergian satu-satunya wanita yang ia panggil Ibu di
seumur hidupnya. Sudah ia relakan dirinya tercampakkan oleh keputusan Ayahnya
untuk menjadikan wanita sialan ini untuk menggantikan Ibunya.
Terlebih,
sudah Sasuke relakan ia hidup dengan siksaan jiwa raga begini. Dengan tubuh
yang tiap hari kian terpuruk. Dengan penyakit yang kerap menyiksanya seolah tanpa
ampun. Seolah tanpa henti.
Sudah
Sasuke relakan. Dan Sasuke hanya berharap ia menanggung semua ini sendiri. Ia
hanya berdoa agar semua tetap menutup mata akan keadaan hidupnya. Tak ingin ia
ada raut penuh belas kasihan untuknya. Tak sudi ia menerima air mata mereka.
Lamunan
Sasuke buyar saat mendengar suara pintu tertutup. Saat ia menoleh, ia mendapati
wanita itu telah menghilang, tergantikan dengan sosok lelaki tegas yang kini
berdiri tegak di samping ranjangnya.
"Kenapa?"
tanya lelaki tua yang dulu biasa Sasuke panggil Ayah.
Sasuke tak
menjawab. Sengaja. Jika Fugaku bisa mengacuhkan rasa penasaran Sasuke kala
Sasuke menanyakan kenapa Fugaku bisa mengkhianati cinta Ibunya, kenapa sekarang
Sasuke tak bisa bersikap sama?
Fugaku
terduduk di tepi ranjang Sasuke. Diperhatikannya putra keduanya itu dengan
baik-baik. Putranya yang selalu mengacuhkan keberadaannya. Putranya yang
akhir-akhir ini berani menentangnya. Melawannya. Berontak.
Fugaku
menghela nafas. Mungkin ini semua bukan salah Sasuke seluruhnya.
"Apa
yang terjadi denganmu hingga kaupingsan di sekolah?"
"Sejak
kapan kaupeduli?" tanya Sasuke tanpa memalingkan wajahnya, "Sejak
kapan pula diriku lebih berharga untuk menerima perhatianmu ketimbang wanita
itu?"
"Siapa wanita
itu?" tanya Fugaku tegas dan lantang, "Jika yang kaumaksud adalah
Anko, kau seharusnya memanggilnya Ibu."
"Ibuku
sudah mati. Dia bukan Ibuku dan berhentilah memaksaku untuk menganggapnya
istrimu!"
Fugaku
belum sempat membalas saat dilihatnya putranya beranjak dari atas ranjang. Lalu
tanpa berkata apa-apa lagi, pemuda itu sudah lenyap di balik pintu kamar coklat
tua itu.
Fugaku
mengepalkan kedua tangannya. Bukannya ia marah atas ketidaksopanan putranya.
Bukannya ia tidak mentolerir sikap pembangkang putranya. Namun ia hanya merasa
kecewa atas dirinya sendiri. Ketidakmampuannya untuk membuat putranya bahagia.
Kekeliruannya memilih jalan dan cara untuk menyenangkan hati putranya.
Ketidaksanggupannya untuk memutar waktu. Keterlambatannya untuk menyadari
semua.
-oOo-
Sore hari.
Tampak sangat berarti jika kita melewatkannya sejenak untuk menikmati matahari
indah yang beranjak ke peraduannya. Menyemburatkan sinarnya hingga langit di
sana tampak indah dengan warna jingga. Dengan barisan burung hitam yang terbang
tinggi menuju ke suatu tempat. Semilir angin sesekali berhembus, membelai diri
siapapun dengan kedamaian di setiap sentuhan lembutnya.
Indah.
Nyaman. Damai.
Sore hari
yang tampak total berbeda dari pagi hari pada musim panas ini.
Sasuke
terus melangkahkan kakinya di sepanjang jalan yang ada di depannya. Tak tahu
lagi ia harus ke mana. Tak ada ide sama sekali ia akan berakhir di mana. Bahkan
seragam olahraganya masih melekat di tubuhnya. Tak ada waktu untuk
memperhatikan penampilan. Tak ada niat untuk memperbaikinya.
Hembusan
angin sejuk telah menghapus seluruh peluh yang semula menempel di sekujur
tubuhnya. Belaian angin sesekali membuat beberapa helai rambut yang jatuh di
wajahnya tergerak lirih. Namun pemuda itu tak peduli. Seluruh pikirannya kini
tercurah penuh pada hidupnya. Tersita seluruhnya pada semua keadaan dirinya.
Helaan
nafas terdengar menandai bosannya ia berpikiran yang sama selama beberapa kali.
Bukankah sudah berulang-ulang ia sadar, tak akan ada yang berubah sekalipun ia
menangis? Tak akan ada yang berubah sekalipun matanya meratap. Tak akan ada
yang berubah sekalipun mulutnya mengiba.
Sasuke
mengedarkan pandangannya. Jalanan tampak ramai. Sore hari merupakan jam pulang
kerja bagi kebanyakan orang. Jalanan yang sempit terasa semakin sesak dengan
berbagai jenis kendaraan dan orang-orang yang berlalu-lalang di sepanjang
trotoar.
Pandangan
Sasuke terhenti pada suatu arah. Arah di mana seorang pedagang kecil berada di
tepi jalan sana.
Samar,
Sasuke mendengar pedagang tua itu berteriak menjajakan dagangannya pada
kumpulan manusia yang lewat di sekitarnya. Sekalipun usahanya hanya mendapat
lirikan sekilas, bahkan tak jarang tak mendapat respon yang berarti sama
sekali, pedagang itu tak putus asa. Teriakannya masih terdengar. Tawarannya
seolah tanpa henti terucap.
Hati Sasuke
trenyuh. Hidup ini memang penuh rintangan. Penuh tantangan. Gagal sekali, bukan
berarti kiamat. Gagal sekali, berarti usaha untuk kedua kali. Gagal dua kali,
berarti usaha untuk tiga kali. Hingga tercapai keinginan kita. Hingga
terlaksana harapan kita. Seperti pedagang itu. Mendapat cibiran dan dengusan
bukan berarti memadamkan usahanya untuk memperoleh beberapa keping receh.
Mungkin ia mempunyai keluarga yang harus dihidupinya di rumah. Untuk itu, ia
pasti berusaha keras. Sekalipun ia telah berteriak-teriak dan menawarkan
dagangan dengan giat tanpa ada yang menghargai hasil usahanya, pasti jika satu
buah dagangannya terjual, keluarganya bisa makan.
Sasuke
melangkahkan kaki ke arah pedagang itu. Sesuai dugaan Sasuke, pedagang itu
langsung menyambut kedatangan Sasuke dengan senyum hangat. Senyum bahagia.
"Mau
beli apa, Nak?" tanyanya ramah.
Sasuke
terhenyak. Mau beli apa? Ia melihat seluruh jenis benda yang dijual pedagang
itu. Hanya tumpukan aksesoris yang entah Sasuke tak tahu apa namanya. Beberapa
bahkan berbentuk antik, namun semua orang tak akan menghargai tinggi benda yang
terbuat dari plastik begini, sebagus apapun bentuk benda itu.
Hanya mirip
mainan anak kecil.
"Ini!
Ini baling-baling! Kaubisa berikan pada adikmu," ujar pedagang itu saat
Sasuke hanya terhenyak bagai patung sembari menatap barang dagangannya,
"Atau ini, kaubisa memberikannya pada kekasihmu," pedagang itu
menyodorkan sebuah hiasan indah terbuat dari kaca berbentuk setengah lingkaran.
Di dalam kaca itu terdapat air dan sebuah rumah mainan yang kecil, dengan
butiran-butiran kecil berwarna putih yang tampak seperti salju.
Seolah
takut akan kehilangan pelanggan satu-satunya, pedagang itu kali ini menyodorkan
sebuah benda kecil pada Sasuke. Sebuah benda berbentuk kalung dengan sebuah
batu kaca berbentuk segi lima di ujungnya.
"Ini,
ini jimat. Kaubisa menjadikan nyata semua keinginanmu," ujar lelaki tua
itu yang sukses membuat mata Sasuke melirik pada benda itu.
Sasuke
melihat benda itu. Kalung sederhana berwarna putih dengan hiasan kaca segi lima
di ujungnya. Tampak biasa saja. Bahkan mungkin siswa SMP bisa membuat hasil
karya yang lebih baik dari itu.
"Yakinlah,
apapun impianmu, akan terkabulkan dengan kalung ini," pedagang itu
tersenyum.
Sasuke
tersenyum miris. Impian? Hanya dengan kalung tak berharga itu? Apa hebatnya?
Mengapa pedagang itu tak memakai kalung itu untuk menjadi kaya jika benar-benar
kalung itu bisa merubah keadaan?
Namun
akhirnya Sasuke membayar juga. Hanya sebagai bentuk rasa kepedulian saja.
Menyenangkan hati orang lain sesekali tak apa, bukan?
"Terima
kasih," ujar pedagang itu senang saat menerima sejumlah uang dari Sasuke.
Sasuke
kembali melangkah pergi. Seorang anak kecil yang berdiri di dekat stand
pedagang itu, tampak memerhatikannya. Namun Sasuke mengacuhkannya.
Kedua mata
hitamnya menatap kalung yang berada di tangannya. Sebentuk senyum getir
tersungging di bibirnya.
"Jika
kaumemang hebat," ujar Sasuke lirih, "Bisakah kaumerubah hidupku
lebih menyenangkan?"
Sasuke
menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri saat ia tersadar apa yang barusan ia
lakukan. Percaya pada omongan seorang pedagang tadi. Pasti ia mengucapkan bahwa
kalung ini bisa mengabulkan impian karena ingin mendapat uang. Agar salah satu
barang dagangannya bisa terjual. Dan ia bisa pulang secepatnya.
Apa yang
bisa Sasuke harapkan dari seuntai kalung murahan ini? Apa yang bisa dirubah
oleh kalung yang tampak tak berharga ini? Jadi, untuk apa tadi Sasuke tampak
konyol dengan berucap pada benda mati itu? Seolah-olah ia adalah orang kolot
yang masih percaya akan kekuatan dari benda mati.
Lucu.
"Tunggu!"
Langkah
Sasuke terhenti saat ujung atasan seragam olahraganya tertarik dari arah
belakang. Sasuke menoleh, dan mendapati bocah yang tadi ia lihat di dekat stand
pedagang kalung ini, kini tegak di belakangnya.
"Aku
menginginkan kalung Kakak," ujarnya polos sembari menunjuk kalung yang
berada di tangan Sasuke.
"Untuk
apa?" Sasuke akhirnya berbicara.
Perlahan
Sasuke lihat kedua mata bocah perempuan itu meneteskan air mata. Kedua matanya
yang bening dan bersorot polos situ kini tampak sedih. Wajah imutnya tampak
penuh dengan gurat permohonan yang tulus.
"Untuk
Kakakku. Aku ingin Kakakku sembuh."
Sasuke
terdiam. Ia menatap kalung di tangannya. Kalung yang dibelinya dengan harga
yang tak seberapa.
"Aku
tak punya uang untuk membelinya. Tapi aku ingin Kakakku sembuh," suara
kecil itu terdengar lagi.
Sasuke
terhenyak. Ditatapnya gadis yang kini tegak penuh harap di depannya itu.
Sembuh?
Dengan kalung ini?
"Tak
ada keajaiban di dunia ini," ujar Sasuke yang dibalas dengan pandangan tak
mengerti dari bocah itu, "Tak ada keajaiban yang bisa diberikan kalung
ini."
"Aku
percaya! Kakakku bisa sembuh! Aku percaya dengan kalung itu," ujar bocah
itu cepat seakan takut Sasuke akan pergi tanpa mengabulkan permintaannya,
"Kumohon, Kak."
Sasuke
menatap pada bocah kecil itu. Jika orang lain yang memohon pada Sasuke, pasti
akan diacuhkan begitu saja oleh pemuda itu. Tak peduli. Untuk apa mengabulkan
doa mereka jika tak ada seorang pun yang bisa mewujudkan impian Sasuke sendiri?
Namun sekarang lain. Adalah seorang gadis kecil yang memohon kepadanya. Adalah
dua pasang mata polos yang bersorot penuh harap kepadanya. Adalah isak tangis
dari mulut mungil yang terdengar tulus di telinganya.
Hingga
membuat tangan Sasuke terulur. Hingga membuat dia melepaskan kalung itu di
telapak tangan kecil di depannya itu. Hingga wajah mungil itu bersorot bahagia.
Hingga ucapan terima kasih terdengar dari mulut kecilnya.
Sasuke
hanya bisa mengamati anak itu yang berlari cepat menjauh darinya.
Sasuke
menunduk saat ia melihat ada tetesan berwarna merah di bawah kakinya. Ia meraba
bawah hidungnya. Terasa hangat. Dan saat ia melihat jari yang menyentuh bawah
hidungnya, kini jari itu berwarna merah.
Sasuke
menunduk.
Jika kalung
itu bisa mengabulkan harapan seseorang, baru saja ia telah melepas harapannya
sendiri untuk terwujudnya impian orang lain.
Sasuke
terdiam sembari menatap bercak merah di ujung jarinya. Tatapan matanya seolah
tertumbuk penuh pada cairan pekat di kulit jarinya itu.
Tak apa, pikir
Sasuke. Tak ada yang peduli akan harapanku. Tak ada yang peduli akan
impian dan hidupku.
0 komentar:
Posting Komentar