Kamis, 08 Mei 2014

Jejak Alpha Centauri


Desclaimer: Naruto by Masashi Kishimoto | Uchiha Yuki-chan

Ch 2. The Necklace of Hope

Naruto melangkahkan kaki dengan pandangan mata yang sendu. Sekalipun kedua matanya tampak menatap ke arah depan, namun rasanya jiwa pemuda itu sama sekali tak berada di raganya. Terbang. Entah kemana.
"Kau harus mengatakan semua ini pada keluargamu, Teme," ujar Naruto lesu, mirip sebuah keluhan. Saat semua yang ia pikirkan berakhir sia-sia. Saat tak ada lagi cara lain untuk mengatasi permasalahan penting dari sahabatnya yang juga tengah berjalan di sampingnya itu.
"Buat apa, sih?"
Pemuda dengan berambut hitam itu hanya menjawab singkat. Ia malah sempat mencibir saat menanggapi saran Naruto barusan.
Ya, buat apa ia melakukan saran bodoh itu? Sekalipun jika Sasuke benar-benar menurutinya, apa yang akan berubah? Toh lelaki tua itu tetap akan memilih wanita sialan itudaripada anaknya sendiri. Jadi, untuk apa dia harus melakukan hal yang jelas-jelas sia-sia? Selama Sasuke masih bisa bernafas, ia tak akan pernah membiarkan siapapun tahu akan semua ini. Kecuali Naruto tentu saja. Selama jantung ini masih bisa berdetak, Sasuke akan terus menyimpan semuanya hingga ke ujung nafasnya. Dan selama nadi ini berdenyut, ia akan menanggung semua ini sendiri.
Ya, sendiri. Memangnya siapa lagi yang selama ini selalu berada di dekatnya seumur ia hidup? Tak ada, bukan?
"Tapi Teme, setidaknya lihatlah Ayahmu. Kau harus memberitahunya," Naruto masih mencoba menawar. Masih mencoba melelehkan bekuan es dalam hati yang dingin itu.
"Justru karena dia Ayahku, aku tak sudi memberi tahu siapapun."
"Tapi dia tetap Ayahmu. Aku tak yakin dia masih bisa tega saat melihat kauter…"
"Bisakah kaudiam, Uzumaki?!" bentak Sasuke seraya menghentikan langkahnya.
Ditolehnya Naruto yang juga berhenti melangkah. Ditatapnya Naruto dengan pandangan tajam hingga membuat mulut yang biasa mengoceh itu terkatup sempurna.
Sasuke menghela nafas. Sedikit menyesal dia telah bersuara kasar pada kawannya itu. Bukankah selama ini hanya Naruto yang tahu semuanya? Bukankah sekian lama Naruto sudah mendukungnya?
"Biarkan semua seperti ini saja, Naruto," ujar Sasuke lirih dengan kembali melangkahkan kedua kakinya.
Naruto masih terpaku. Ia tetap berdiri memandang punggung Sasuke yang perlahan menjauh.
Jika Naruto adalah seorang perempuan, pasti ia sudah menangis tersedu. Jika ia bukanlah lelaki, pasti ia sudah terpuruk dalam.
Naruto mengalihkan pandangannya ke bawah. Ditatapnya lantai putih dari koridor rumah sakit itu.
Sampai kapan semua ini akan terjadi? Kapan semua ini akan berakhir? Sampai kapan persahabatan ini akan tetap terjalin, Tuhan?
-oOo-
Hari terasa terang dan cerah. Matahari tampak berpijar ganas di atas sana dan mencurahkan segenap sinarnya pada Bumi untuk melanjutkan kehidupannya. Beberapa orang memilih untuk berdiam diri di tempat yang nyaman. Menyelamatkan kulit mereka dari kondisi luar yang sungguh tak bersahabat. Merasakan sejuknya hembusan udara dingin AC adalah salah satu hal terbaik.
Namun tidak bagi sejumlah remaja di lapangan basket sana. Tuntutan pelajaranlah yang memaksa mereka untuk membakar diri di pagi yang seharusnya lebih pantas disebut siang ini.
"Next, Uzumaki dan Lee!" teriak satu-satunya manusia yang berusia separuh baya dan satu-satunya lelaki yang dengan egoisnya memilih berdiam diri di bawah pohon beringin saat para murid bimbingannya seolah mempertaruhkan nyawa di tengah lapangan basket sana.
"Naruto!! Ayo!" teriak beberapa anak lelaki saat pemuda berambut pirang itu berdiri dari duduknya dan bersiap di garis start.
"Lee! Kalahkan tuh anak!" teriak yang lain menyemangati peserta satunya.
"Naruto! Kau pasti bisa! Kau 'kan biasa kabur dan lari langkah seribu kalo ketahuan manjat pagar sekolah!!!"
Kedua pemuda itu sudah bersiap pada posisinya. Sekalipun mereka sama sekali belum melakukan apa-apa, namun rasa panas udara rasanya sudah menurunkan energi mereka sebesar 50 persen. Peluh keringat sudah bermunculan di wajah kedua peserta. Bahkan baju olahraga Naruto sudah basah kuyup seolah baru dicelup dalam mesin pencucian.
Saat suara peluit terdengar, kedua tubuh itu segera melesat ke depan. Berlari sekuat mungkin. Sebisa mungkin untuk menuju garis finish dengan waktu tersingkat. Rasa ego seorang lelaki tak membiarkan salah satu dari mereka mau kalah dan mau mengalah. Hanya ada dua pilihan kata yang menanti mereka. Pemenang. Atau pecundang.
"YEEEE!!!"
Teriakan suka cita dan tepukan tangan serentak terdengar saat pemuda berambut dengan style mirip mangkuk terbalik dan berwarna hitam terlalu mengkilap itu, melangkahkan kaki memasuki garis finish di mana rivalnya masih satu langkah lebih lambat darinya.
"Ini hanya tes pelajaran, Naruto," ujar pemuda berambut hitam pekat itu jemu saat sahabatnya itu duduk di sampingnya dengan raut kesal dan melipat kedua tangan di dada, kebiasaan jika dia merasa kalah. "Sekalipun kaumenang, tak ada siapapun yang menyambut kemenanganmu."
Ya! Mungkin bagi Sasuke pelajaran olahraga adalah hal yang tidak penting. Apa sih hebatnya mendapat nilai bagus di bidang yang hanya mengandalkan fisik seperti itu? Kauakan tetap naik kelas dan lulus sekalipun nilaimu dalam pelajaran itu paling rendah.
Tapi bagi Naruto lain. Satu-satunya hari yang selalu dinantinya adalah hari Selasa, saat di mana ia bisa berada di luar ruangan kelas. Saat di mana tak ada papan tulis, tak ada deretan rumus dan teori yang harus ia hafalkan di luar kepala. Saat ia bisa menggunakan fisiknya daripada otaknya. Naruto bangga! Oleh karena itu, perasaan kesal otomatis ia rasakan begitu pemuda bernama Lee itu berhasil mengungguli dirinya. Perasaan merasa sebagai pecundang yang bahkan bisa terhempas hanya dalam lomba lari 200 meter, kini ia rasakan. Mungkin terdengar hiperbola, namun itulah perasaan Naruto.
Benci akan kekalahan. Muak akan ketidakmampuan.
"Lagipula, terang saja kaukalah dengan Lee. Kau kurang semangat," ujar Sasuke lagi seraya menyandarkan punggungnya pada tiang ring basket.
Jika Naruto tak sedang kesal, pasti ia akan bisa merasakan perbedaan pada nada dan kata-kata yang diucapkan Sasuke.
Menghibur. Menenangkan. Dua hal yang jarang bahkan mungkin tak pernah ada di kamus kehidupan Uchiha itu.
"Next, Uchiha dan Inuzuka!"
Sorak sorai kembali terdengar. Kali ini lebih riuh. Tentu saja kebanyakan dari suara anak perempuan yang mendiamkan diri di tempat parkir guru yang teduh di sana. Dan tentu pula, yang membuat mereka bisa berteriak terlalu keras pada cuaca keras begini karena pemuda berklan Uchiha itu.
"Huh," ujar Sasuke sembari menghela nafas lirih dan mulai beranjak berdiri. Namun baru ia menegakkan tubuhnya, sebelah tangannya dicekal oleh Naruto.
Saat Sasuke menatap ke bawah, memandang wajah dari Naruto yang masih terduduk di lantai, Sasuke mendapati kedua bola mata beriris biru langit itu menatapnya ragu. Menatapnya cemas. Mencoba mengucapkan Jangan lewat pandangan matanya.
Namun sia-sia.
Naruto hanya bisa mengamati dengan hati yang terus mengucapkan doa pada sahabatnya yang sudah berjongkok di garis start sana.
'Treat me the way you treat others'
Ucapan Sasuke saat itu kembali terngiang di telinga Naruto.
Sekalipun Sasuke meminta demikian, tapi bagaimana bisa Naruto melakukannya? Bagaimana Naruto seolah-olah melupakan apa yang tengah dialami oleh sahabatnya itu?
Sedangkan Sasuke terdiam sembari menunggu suara peluit tertiup. Ia menatap lurus kedepan. 200 meter. Jarak yang tak jauh tentu saja.
Sasuke menggigit bibir bawahnya. Apakah dirinya mampu melewati jarak pendek itu tanpa harus….
Suara peluit terdengar.
Sasuke segera melesat ke depan. Pemuda bernama Inuzuka Kiba juga tengah berlari menyainginya.
Sasuke mempercepat langkahnya. Ditatapnya garis finish di depan sana.
Ia tak akan kalah.
Sudah cukup hidupnya penuh derita, sudah cukup hidupnya penuh kemuakan. Ia tak akan kalah kali ini. Sedikit saja, ingin ia rasakan kemenangan. Sejenak saja, ingin ia mengalahkan kutukan dalam tubuh ini. Siksa neraka dunia yang kini bersemayam dalam dirinya. Ia hanya ingin menang, sekalipun dalam pelajaran olahraga, tak apa.
Cepat! Langkahnya semakin cepat. Ia tahu, tubuhnya seakan semakin tak terkontrol. Seakan kakinya terus berlari tanpa mampu ia hentikan. Secara otomatis saja. Saat ia berlari, ia tahu pula, jantungnya berdegup kencang. Seakan memerintah keras agar Sasuke berhenti saat itu juga. Deru nafasnya memburu kuat, seakan memprotes Sasuke yang memaksa seluruh organnya berkerja dua kali lebih keras. Dua kali lebih kuat.
Sedikit lagi. Sedikit lagi kakinya akan menapak di garis finish.
Suara peluit bersamaan dengan teriakan gemuruh para gadis terdengar menandai berakhirnya persaingan antara Uchiha dan Inuzuka itu. Sudah dapat ditebak siapa pemenangnya. Jika Inuzuka, pasti belasan gadis di sana akan bermuka muram.
Naruto segera berlari menghampiri Sasuke yang masih berdiri dengan membungkuk dengan menjadikan kedua lututnya sebagai tumpuan kedua tangannya.
Jika orang lain bahagia akan semua ini, Naruto justru merasakan kecemasan hebat tengah melanda jiwanya.
"Sasuke," Naruto menepuk lengan terbuka Sasuke.
Tak ada jawaban. Saat melihat wajah Sasuke yang berpeluh hebat, saat mendapati kaki dan lutut yang menyangga tubuhnya gemetar kuat, saat mendapati bibir tipis itu bergetar samar, Naruto semakin yakin bahwa apa yang ia cemaskan telah terjadi.
"Sasuke!"
Teriakan Naruto yang kuat membuat para manusia lain yang berada di lapangan itu segera menghampiri mereka berdua.
"Kya!!" beberapa gadis malah berteriak, di antaranya bahkan menangis tertahan saat melihat bagaimana anehnya keadaan Sasuke.
Jangankan untuk menjawab panggilan Naruto dan teman-temannya, untuk mencoba menarik nafaspun Sasuke seakan tak mampu lagi. Ia mendengar semua suara ini. Ia tahu mereka cemas. Tetapi tubuh ini rasanya tak bisa bergerak. Raga ini seolah tak mampunyai daya lebih untuk bahkan menggerakkan ujung jaripun!
Rasa itu diperburuk saat Sasuke merasakan dadanya terasa sakit. Sakit yang sama. Sakit yang tak berubah sekalipun rasanya ia sudah bosan meminum benda-benda bernama obat itu. Rasa kutukan ini. Rasa yang sungguh sangat menyiksa dirinya. Seakan di dalam dadanya tengah berkobar api yang kuat. Api yang melemahkan semua sarafnya, api yang melumpuhkan kerja organnya. Sakit. Perih.
Aku tak ingin sekarang, batin Sasuke getir. Jangan di depan mereka.
Namun niat Sasuke untuk menyembunyikan semua ini terbongkar hari itu saat ia terbatuk hebat dan dari mulutnya mengeluarkan darah merah pekat.
Sasuke mendengar pekikan dari orang-orang di sekitarnya. Namun ia tersenyum getir saat melihat darah yang membasahi telapak tangannya kala ia menyeka mulutnya.
Dan Sasuke tak tahu bagaimana bisa ia merasakan tubuhnya terasa ringan. Bagaimana seolah ia rasakan Bumi ini sudah tak memiliki gravitasi yang bisa mengikat Sasuke di dalamnya.
-oOo-
Sasuke membuka matanya saat ia mendengar suara isak tangis menyapa telinganya. Meski ia belum bisa melihat secara jelas, namun ia pastikan bahwa yang tengah tersedu di atas kursi di samping ranjangnya adalah satu-satunya orang yang tak ingin ia lihat di dunia ini.
"Sasuke, kamu sudah sadar, Nak?" wanita itu beranjak berdiri, hendak mendekat ke Sasuke. Namun ia terpaksa terpaku diam saat Sasuke malah membuang muka, berpaling darinya.
Sasuke menghela nafas.
Kenapa harus dia? Kenapa wanita sialan ini bisa ada di sini? Dan terlebih jauh lagi, kenapa ia harus dibawa pulang saat dirinya pingsan di sekolah tadi?
Naruto! Tiba-tiba Sasuke merasakan kekecewaan pada temannya itu. Tidakkah ia ingat bagaimana bencinya Sasuke berada di rumah ini? Tidak tahukah dia bagaimana muaknya Sasuke jika bertemu dengan perempuan ini? Tidak mengertikah dia saat berulang kali Sasuke bilang bahwa ia tak ingin terlihat runtuh di depan keluarganya? Ia tak ingin terlihat payah. Ia tak sudi dikasihani.
"Pergi," ujar Sasuke dingin.
Membuat wanita yang sudah berada satu atap dengannya selama setengah tahun lebih itu semakin terisak. Sebelah tangannya menekan dadanya kuat-kuat, mencoba merasakan sakit atas penolakan yang tak kunjung henti dari pemuda di depannya itu.
Sepi. Tak terdengar apapun. Hanya suara detak dari jarum jam dinding yang mengisi kesunyian itu. Jelas. Seolah-olah di ruangan ini sama sekali tak ada kehidupan apapun.
Sasuke menenggelamkan diri dalam angannya sendiri. Saat ia merasa bahwa dunianya sekarang mungkin sudah terbalik. Semua mimpi buruknya sudah ada di depan mata untuk menjadi kenyataan.
Tak hanya teman-teman sekolahnya yang tahu betapa payahnya dirinya. Bahkan sekarang keluarganya mungkin sudah tahu betapa ambruk dirinya. Dan mereka akan mengasihani Sasuke. Dan mereka akan menangisi Sasuke bahkan ketika Sasuke masih hidup.
Tak ingin. Sasuke tak butuh itu semua.
Ia memejamkan mata. Kenapa seolah-olah semua impiannya tak terkabul barang satu saja? Kenapa semua terjadi secara bertolak belakang dengan apa yang ia inginkan? Semua tampak sia-sia. Seakan tak ada lagi harapan di dunia ini yang tersedia untuk Sasuke. Seakan hidup Sasuke hanya untuk menghitung tiap detak jantung dan hembus nafas yang masih bisa ia lakukan.
Sudah ia relakan kepergian satu-satunya wanita yang ia panggil Ibu di seumur hidupnya. Sudah ia relakan dirinya tercampakkan oleh keputusan Ayahnya untuk menjadikan wanita sialan ini untuk menggantikan Ibunya.
Terlebih, sudah Sasuke relakan ia hidup dengan siksaan jiwa raga begini. Dengan tubuh yang tiap hari kian terpuruk. Dengan penyakit yang kerap menyiksanya seolah tanpa ampun. Seolah tanpa henti.
Sudah Sasuke relakan. Dan Sasuke hanya berharap ia menanggung semua ini sendiri. Ia hanya berdoa agar semua tetap menutup mata akan keadaan hidupnya. Tak ingin ia ada raut penuh belas kasihan untuknya. Tak sudi ia menerima air mata mereka.
Lamunan Sasuke buyar saat mendengar suara pintu tertutup. Saat ia menoleh, ia mendapati wanita itu telah menghilang, tergantikan dengan sosok lelaki tegas yang kini berdiri tegak di samping ranjangnya.
"Kenapa?" tanya lelaki tua yang dulu biasa Sasuke panggil Ayah.
Sasuke tak menjawab. Sengaja. Jika Fugaku bisa mengacuhkan rasa penasaran Sasuke kala Sasuke menanyakan kenapa Fugaku bisa mengkhianati cinta Ibunya, kenapa sekarang Sasuke tak bisa bersikap sama?
Fugaku terduduk di tepi ranjang Sasuke. Diperhatikannya putra keduanya itu dengan baik-baik. Putranya yang selalu mengacuhkan keberadaannya. Putranya yang akhir-akhir ini berani menentangnya. Melawannya. Berontak.
Fugaku menghela nafas. Mungkin ini semua bukan salah Sasuke seluruhnya.
"Apa yang terjadi denganmu hingga kaupingsan di sekolah?"
"Sejak kapan kaupeduli?" tanya Sasuke tanpa memalingkan wajahnya, "Sejak kapan pula diriku lebih berharga untuk menerima perhatianmu ketimbang wanita itu?"
"Siapa wanita itu?" tanya Fugaku tegas dan lantang, "Jika yang kaumaksud adalah Anko, kau seharusnya memanggilnya Ibu."
"Ibuku sudah mati. Dia bukan Ibuku dan berhentilah memaksaku untuk menganggapnya istrimu!"
Fugaku belum sempat membalas saat dilihatnya putranya beranjak dari atas ranjang. Lalu tanpa berkata apa-apa lagi, pemuda itu sudah lenyap di balik pintu kamar coklat tua itu.
Fugaku mengepalkan kedua tangannya. Bukannya ia marah atas ketidaksopanan putranya. Bukannya ia tidak mentolerir sikap pembangkang putranya. Namun ia hanya merasa kecewa atas dirinya sendiri. Ketidakmampuannya untuk membuat putranya bahagia. Kekeliruannya memilih jalan dan cara untuk menyenangkan hati putranya. Ketidaksanggupannya untuk memutar waktu. Keterlambatannya untuk menyadari semua.
-oOo-
Sore hari. Tampak sangat berarti jika kita melewatkannya sejenak untuk menikmati matahari indah yang beranjak ke peraduannya. Menyemburatkan sinarnya hingga langit di sana tampak indah dengan warna jingga. Dengan barisan burung hitam yang terbang tinggi menuju ke suatu tempat. Semilir angin sesekali berhembus, membelai diri siapapun dengan kedamaian di setiap sentuhan lembutnya.
Indah. Nyaman. Damai.
Sore hari yang tampak total berbeda dari pagi hari pada musim panas ini.
Sasuke terus melangkahkan kakinya di sepanjang jalan yang ada di depannya. Tak tahu lagi ia harus ke mana. Tak ada ide sama sekali ia akan berakhir di mana. Bahkan seragam olahraganya masih melekat di tubuhnya. Tak ada waktu untuk memperhatikan penampilan. Tak ada niat untuk memperbaikinya.
Hembusan angin sejuk telah menghapus seluruh peluh yang semula menempel di sekujur tubuhnya. Belaian angin sesekali membuat beberapa helai rambut yang jatuh di wajahnya tergerak lirih. Namun pemuda itu tak peduli. Seluruh pikirannya kini tercurah penuh pada hidupnya. Tersita seluruhnya pada semua keadaan dirinya.
Helaan nafas terdengar menandai bosannya ia berpikiran yang sama selama beberapa kali. Bukankah sudah berulang-ulang ia sadar, tak akan ada yang berubah sekalipun ia menangis? Tak akan ada yang berubah sekalipun matanya meratap. Tak akan ada yang berubah sekalipun mulutnya mengiba.
Sasuke mengedarkan pandangannya. Jalanan tampak ramai. Sore hari merupakan jam pulang kerja bagi kebanyakan orang. Jalanan yang sempit terasa semakin sesak dengan berbagai jenis kendaraan dan orang-orang yang berlalu-lalang di sepanjang trotoar.
Pandangan Sasuke terhenti pada suatu arah. Arah di mana seorang pedagang kecil berada di tepi jalan sana.
Samar, Sasuke mendengar pedagang tua itu berteriak menjajakan dagangannya pada kumpulan manusia yang lewat di sekitarnya. Sekalipun usahanya hanya mendapat lirikan sekilas, bahkan tak jarang tak mendapat respon yang berarti sama sekali, pedagang itu tak putus asa. Teriakannya masih terdengar. Tawarannya seolah tanpa henti terucap.
Hati Sasuke trenyuh. Hidup ini memang penuh rintangan. Penuh tantangan. Gagal sekali, bukan berarti kiamat. Gagal sekali, berarti usaha untuk kedua kali. Gagal dua kali, berarti usaha untuk tiga kali. Hingga tercapai keinginan kita. Hingga terlaksana harapan kita. Seperti pedagang itu. Mendapat cibiran dan dengusan bukan berarti memadamkan usahanya untuk memperoleh beberapa keping receh. Mungkin ia mempunyai keluarga yang harus dihidupinya di rumah. Untuk itu, ia pasti berusaha keras. Sekalipun ia telah berteriak-teriak dan menawarkan dagangan dengan giat tanpa ada yang menghargai hasil usahanya, pasti jika satu buah dagangannya terjual, keluarganya bisa makan.
Sasuke melangkahkan kaki ke arah pedagang itu. Sesuai dugaan Sasuke, pedagang itu langsung menyambut kedatangan Sasuke dengan senyum hangat. Senyum bahagia.
"Mau beli apa, Nak?" tanyanya ramah.
Sasuke terhenyak. Mau beli apa? Ia melihat seluruh jenis benda yang dijual pedagang itu. Hanya tumpukan aksesoris yang entah Sasuke tak tahu apa namanya. Beberapa bahkan berbentuk antik, namun semua orang tak akan menghargai tinggi benda yang terbuat dari plastik begini, sebagus apapun bentuk benda itu.
Hanya mirip mainan anak kecil.
"Ini! Ini baling-baling! Kaubisa berikan pada adikmu," ujar pedagang itu saat Sasuke hanya terhenyak bagai patung sembari menatap barang dagangannya, "Atau ini, kaubisa memberikannya pada kekasihmu," pedagang itu menyodorkan sebuah hiasan indah terbuat dari kaca berbentuk setengah lingkaran. Di dalam kaca itu terdapat air dan sebuah rumah mainan yang kecil, dengan butiran-butiran kecil berwarna putih yang tampak seperti salju.
Seolah takut akan kehilangan pelanggan satu-satunya, pedagang itu kali ini menyodorkan sebuah benda kecil pada Sasuke. Sebuah benda berbentuk kalung dengan sebuah batu kaca berbentuk segi lima di ujungnya.
"Ini, ini jimat. Kaubisa menjadikan nyata semua keinginanmu," ujar lelaki tua itu yang sukses membuat mata Sasuke melirik pada benda itu.
Sasuke melihat benda itu. Kalung sederhana berwarna putih dengan hiasan kaca segi lima di ujungnya. Tampak biasa saja. Bahkan mungkin siswa SMP bisa membuat hasil karya yang lebih baik dari itu.
"Yakinlah, apapun impianmu, akan terkabulkan dengan kalung ini," pedagang itu tersenyum.
Sasuke tersenyum miris. Impian? Hanya dengan kalung tak berharga itu? Apa hebatnya? Mengapa pedagang itu tak memakai kalung itu untuk menjadi kaya jika benar-benar kalung itu bisa merubah keadaan?
Namun akhirnya Sasuke membayar juga. Hanya sebagai bentuk rasa kepedulian saja. Menyenangkan hati orang lain sesekali tak apa, bukan?
"Terima kasih," ujar pedagang itu senang saat menerima sejumlah uang dari Sasuke.
Sasuke kembali melangkah pergi. Seorang anak kecil yang berdiri di dekat stand pedagang itu, tampak memerhatikannya. Namun Sasuke mengacuhkannya.
Kedua mata hitamnya menatap kalung yang berada di tangannya. Sebentuk senyum getir tersungging di bibirnya.
"Jika kaumemang hebat," ujar Sasuke lirih, "Bisakah kaumerubah hidupku lebih menyenangkan?"
Sasuke menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri saat ia tersadar apa yang barusan ia lakukan. Percaya pada omongan seorang pedagang tadi. Pasti ia mengucapkan bahwa kalung ini bisa mengabulkan impian karena ingin mendapat uang. Agar salah satu barang dagangannya bisa terjual. Dan ia bisa pulang secepatnya.
Apa yang bisa Sasuke harapkan dari seuntai kalung murahan ini? Apa yang bisa dirubah oleh kalung yang tampak tak berharga ini? Jadi, untuk apa tadi Sasuke tampak konyol dengan berucap pada benda mati itu? Seolah-olah ia adalah orang kolot yang masih percaya akan kekuatan dari benda mati.
Lucu.
"Tunggu!"
Langkah Sasuke terhenti saat ujung atasan seragam olahraganya tertarik dari arah belakang. Sasuke menoleh, dan mendapati bocah yang tadi ia lihat di dekat stand pedagang kalung ini, kini tegak di belakangnya.
"Aku menginginkan kalung Kakak," ujarnya polos sembari menunjuk kalung yang berada di tangan Sasuke.
"Untuk apa?" Sasuke akhirnya berbicara.
Perlahan Sasuke lihat kedua mata bocah perempuan itu meneteskan air mata. Kedua matanya yang bening dan bersorot polos situ kini tampak sedih. Wajah imutnya tampak penuh dengan gurat permohonan yang tulus.
"Untuk Kakakku. Aku ingin Kakakku sembuh."
Sasuke terdiam. Ia menatap kalung di tangannya. Kalung yang dibelinya dengan harga yang tak seberapa.
"Aku tak punya uang untuk membelinya. Tapi aku ingin Kakakku sembuh," suara kecil itu terdengar lagi.
Sasuke terhenyak. Ditatapnya gadis yang kini tegak penuh harap di depannya itu.
Sembuh? Dengan kalung ini?
"Tak ada keajaiban di dunia ini," ujar Sasuke yang dibalas dengan pandangan tak mengerti dari bocah itu, "Tak ada keajaiban yang bisa diberikan kalung ini."
"Aku percaya! Kakakku bisa sembuh! Aku percaya dengan kalung itu," ujar bocah itu cepat seakan takut Sasuke akan pergi tanpa mengabulkan permintaannya, "Kumohon, Kak."
Sasuke menatap pada bocah kecil itu. Jika orang lain yang memohon pada Sasuke, pasti akan diacuhkan begitu saja oleh pemuda itu. Tak peduli. Untuk apa mengabulkan doa mereka jika tak ada seorang pun yang bisa mewujudkan impian Sasuke sendiri? Namun sekarang lain. Adalah seorang gadis kecil yang memohon kepadanya. Adalah dua pasang mata polos yang bersorot penuh harap kepadanya. Adalah isak tangis dari mulut mungil yang terdengar tulus di telinganya.
Hingga membuat tangan Sasuke terulur. Hingga membuat dia melepaskan kalung itu di telapak tangan kecil di depannya itu. Hingga wajah mungil itu bersorot bahagia. Hingga ucapan terima kasih terdengar dari mulut kecilnya.
Sasuke hanya bisa mengamati anak itu yang berlari cepat menjauh darinya.
Sasuke menunduk saat ia melihat ada tetesan berwarna merah di bawah kakinya. Ia meraba bawah hidungnya. Terasa hangat. Dan saat ia melihat jari yang menyentuh bawah hidungnya, kini jari itu berwarna merah.
Sasuke menunduk.
Jika kalung itu bisa mengabulkan harapan seseorang, baru saja ia telah melepas harapannya sendiri untuk terwujudnya impian orang lain.
Sasuke terdiam sembari menatap bercak merah di ujung jarinya. Tatapan matanya seolah tertumbuk penuh pada cairan pekat di kulit jarinya itu.
Tak apa, pikir Sasuke. Tak ada yang peduli akan harapanku. Tak ada yang peduli akan impian dan hidupku.

0 komentar:

Posting Komentar