Desclaimer: Naruto by Masashi Kishimoto | Uchiha Yuki-chan
Alpha
Centauri
Ch 1. Sasuke Uchiha
Pemuda itu
terus melangkahkan kakinya, menuruni anak tangga demi anak tangga yang akan
membawanya dari lantai atas ke lantai bawah. Dilihatnya seorang wanita dan
seorang lelaki yang berada di ruang makan di bawah sana. Lalu dialihkannya
pandangannya ke arah yang lain.
"Kau
tidak sarapan, Sasuke?" tanya sebuah suara lembut khas seorang wanita.
Sasuke
hanya melengos tanpa menoleh. Diteruskannya langkahnya seolah-olah segenap
bagian indra pendengarannya sama sekali tak menangkap gelombang suara yang baru
saja ditimbulkan oleh wanita itu.
"Sasuke!
Jawab jika ditanya orang tua!" kali ini sebuah suara yang lebih besar.
Membuat langkah Sasuke terhenti sekalipun kepala dengan rambut hitam legam itu
sama sekali tetap tidak berpaling.
"Tidak
usah peduli padaku."
Kali ini,
si wanita hanya bisa menebah dada.
-oOo-
Suasana
pagi. Seperti biasa. Satu langkah baru ia tapakkan ke halaman sekolah saat
berbagai suara menjengkelkan terdengar olehnya. Suara teriakan memanggil
namanya dan sapaan selamat pagi, berulang kali ia terima. Oh, tentu
saja dari para makhluk bernama perempuan! Rutinitas yang membosankan dan
rasanya tak akan berakhir jika ia tidak segera menerima surat kelulusan dari
sekolah ini.
Sembari
terus melangkah, ditatapnya pandangan lurus ke depan. Diacuhkannya tatapan
kagum berlebihan dari para gadis di sekitarnya dan tak dihiraukannya pula
tatapan iri dan merasa sebagai pecundang dari para lelaki yang melihatnya.
Semua sama
saja. Mereka hanya tahu apa yang tampak di depan mata. Sasuke bahkan berani
bertaruh, jika mereka tahu apa yang ada di balik semua keindahan ini, mereka
belum tentu juga akan tetap singgah dan mendukungnya.
Pemuda itu
menghela nafas. Lelah. Kenapa pula dirinya harus merutuki keadaan ini
berkali-kali? Sampai kapan? Sampai ada keajaiban? Keajaiban hanya ada dalam
dongeng dan drama. Keajaiban hanya untuk orang munafik yang tak bisa menerima
kenyataan.
"Teme!!!"
Menghela
nafas untuk kedua kalinya. Suara bising yang sama. Teriakan super semangat yang
tak berubah.
Sasuke
terus melangkah. Tak dihiraukannya pemuda berambut kuning yang tengah berdiri
di depannya sembari tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang di mata
Sasuke sungguh tak mempunyai nilai plus untuk pantas diperlihatkan setiap hari.
"Teme?"
Merasa diacuhkan,
Naruto menyusul Sasuke dan mencoba menyejajari langkahnya.
"Kau
kenapa? Kok sapaan aku gak dibalas?" ujarnya heran sembari terus berjalan
dengan kepala yang menoleh ke wajah Sasuke.
"Hn…sejak
kapan aku pernah membalas sapaanmu?" ujar Sasuke sembari membuka pintu
kelas yang semula separuh tertutup.
"Ah,
kau!" Naruto meninju pundak Sasuke. Maksud hati hanya becanda, tetapi
Sasuke menanggapinya sebagai pernyataan perang. Itu terlihat jelas dari cara
pandang Sasuke yang tajam kepadanya. "Eh, bukankah nanti hasil Try Out
akan diumumkan di aula? Sesuai janji kita, jika nilaiku bisa masuk 20 besar,
kau harus menuruti apapun yang kumau!" Naruto meringis.
Sasuke
hanya melengos dan menaruh tas ranselnya di meja. Ia mendudukkan diri di
kursinya. Dan tanpa diundang, Naruto mendudukkan diri di kursi tepat di hadapan
Sasuke dan menghadapkan wajahnya ke arah pemuda bermata hitam onyx itu.
"Sasuke!
Jawab, dong!" ujar Naruto yang merasa kesal karena untuk kedua kalinya
omongannya hanya sia-sia terlontar, "Kau tidak bermaksud melarikan diri
dari janji, kan? Kau benar-benar pria sejati, kan? Real men don't break their
promises!" ujar Naruto sembari melipat kedua tangan di dada.
Sasuke
hanya terdiam sembari mencoba memaklumi dalam hati setiap tingkah, sifat, dan
omongan pemuda bermata biru itu. Sudah menjadi konsekuensi bagi siapa saja yang
memilih untuk menistakan diri untuk menjadi teman Naruto.
Mendapat
teriakan setiap hari. Mendapat tantangan untuk hal yang tak berguna. Dan juga
yang paling sering, ikut menerima akibat dari perbuatan yang dilakukan Naruto
tetapi tidak dilakukan oleh Sasuke.
Seperti
hari kemarin. Sasuke masih ingat betapa merasa bodoh dirinya saat ia harus
memunguti setiap helai daun yang gugur di halaman sekolah. Tanpa sapu. Tanpa
alat apapun. Hanya dengan tangan! Bersama Naruto tentu saja. Dan sialnya,
Sasuke terpaksa melakukan itu karena Naruto melemparkan kertas berisi nomor HP
barunya pada Sasuke saat ulangan! Dan sialnya, guru pengawas egois bernama
Kurenai itu bahkan tetap menuduh itu kertas contekan, sekalipun ia sudah
melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa yang tertulis di kertas kosong itu
hanya sederet angka tak berguna!
Huh…hidup
memang penuh rintangan.
"Heh!
Kamu ngelamun apa, sih?" Naruto menggerak-gerakkan sebelah tangannya di
depan wajah Sasuke, "Sas, masih pagi! Kalo mau ngimpi jorok, entar
aja!"
Dan satu
buku fisika yang setebal 1.5 cm, melayang dan mendarat sempurna di wajah
kecoklatan itu!
-oOo-
Diambilnya
sebuah buku dari rak bagian Bahasa dan Sastra. Sebuah buku
bersampul hitam setebal beberapa senti. Setelah membaca judul buku itu, pemuda
itu langsung menuju ke sebuah kursi di pojok ruangan sana.
Perhalaman
ia buka. Tiap kata ia telusuri. Beberapa kata dan kalimat ia catat di sebuah
buku catatan kecil miliknya. Beberapa hal hanya ia simpan di memori otaknya
tanpa perlu ia merasa harus menulisnya.
Ia tahu tak
ada tugas yang berhubungan dengan buku di hadapannya ini. Bahkan di kelasnya
sudah tak mendapat pelajaran Bahasa Jerman lagi. Tetapi, ia hanya ingin
mempergunakan waktu sebaik-baiknya. Terkadang bagi sebagian orang, perpustakaan
yang sepi merupakan tempat yang paling pas untuk menyibukkan diri dengan buku.
Terkadang pula, membaca buku merupakan hal yang tepat untuk mengisi waktu.
Selagi kita masih punya waktu. Selagi kita masih diberi kesempatan. Lakukan apa
yang kaumau. Lakukan apa yang kauinginkan.
Setidaknya
itu merupakan pendapat Sasuke.
Oh ya, dan
satu lagi keuntungan berada di perpustakaan. Ia bisa mengamankan pendengaran
dari teriakan para gadis di luar sana. Hey, tak ada perpustakaan yang
mengizinkan pengunjungnya untuk membuat keributan, bukan?
"Sas!!!"
Oh, tidak!
Mungkin baru saja peraturan 'Jangan ribut' itu sudah terlanggar dengan
sempurna.
"Sssstttt!!!"
Pemuda
berambut pirang itu hanya meringis kikuk saat mendengar desisan bagai regu koor
dari para pengunjung sekaligus petugas perpustakaan.
"Udah
ada!" ujarnya dengan intonasi rendah saat ia sampai di depan Sasuke yang
masih memberikan tatapannya sepenuhnya pada buku di hadapannya.
"Iya,
udah ada orang gila di sini," ujar Sasuke jemu.
"Ayo!
Ikut aku! Aku udah gak sabar!" ujar Naruto yang langsung menarik tangan
Sasuke. Namun Sasuke menepis cekalan Naruto dengan tangannya yang bebas.
Belum
sempat Sasuke membuka mulut untuk memprotes, kata-kata Sasuke tertelan kembali
saat Naruto berbicara duluan.
"Kenapa?
Kamu ingin juga melihat nilaimu, kan?"
-oOo-
"Bolehkah
aku meminta sesuatu jika kau tidak termasuk 20 besar?" ujar Sasuke saat
mereka berjalan menuju ke aula. Beberapa anak sedari tadi juga berlarian ke
arah yang sama. "Jika kamu termasuk dalam 100 besar, bisakah kamu berjanji
untuk tidak membuatku malu di manapun aku berada?"
Namun
Sasuke hanya melengos kecewa saat ia menyadari bahwa tampaknya ucapannya
barusan sama sekali tak mencapai gendang telinga Naruto. Pemuda berambut kuning
itu malah menarik tangannya dan menyeret Sasuke untuk ikut berlari bersamanya.
"Misi!
Misi! Minggir lo pada!" ujar Naruto sembari secara brutal dia mendorong
sekumpulan anak yang berdiri berkerumun di depan sebuah papan pengumuman.
Setelah mendapat
sumpah serapah, protes, dan rutukan, akhirnya Naruto bisa berada tepat di depan
papan pengumuman itu.
Dengan mata
birunya, ditelitinya setiap rangkaian kata di kolom nama murid. Mencari sederet
huruf yang merangkai nama 'Uzumaki Naruto'. Dengan perasaan berdebar, jari
telunjuk kanan itu bergerak perlahan dari bawah ke atas di atas kertas itu.
"20
besar! 20 besar! Plis! Sekali doang!" batinnya cemas saat jarinya sudah
memasuki 150 besar, "20 besar! 20 besar!" doanya berulang kali.
Jarinya
yang berwarna kecoklatan itu semakin bergerak ke atas, mengiringi gerak bola
matanya yang meneliti deretan nama di kertas itu. Sudah mencapai 70 besar.
Namun namanya belum juga ada. Kepercayaan semakin yakin. Semakin kuat.
"Hahaha…I'm
going to laugh at you, Teme!" batinnya congkak.
Pandangan
Naruto berhenti saat ia melihat rangkaian huruf yang mengatakan namanya secara
tak lisan. Jarinya juga luruh ke bawah saat telah mencapai sebuah nomor
tertentu. Kedua tangannya terkepal. Tubuhnya mulai bergetar. Digigitnya bibir
bawahnya kuat-kuat.
Tuhan,
benarkah ini semua?
"YEAH!!!!!!!!"
Satu
teriakan keras terdengar dari arah halaman sekolah.
20. Uzumaki
Naruto. 8.60
-oOo-
"Silahkan,"
ujar gadis pelayan cantik itu sembari menaruh satu mangkuk ramen dan mengambil
empat mangkuk kosong yang bertumpuk dan membawanya ke dalam kedai.
"Itadakimasu!!"
seru seorang pemuda berambut kuning dan segera melahap hidangan yang sama
dengan yang sudah dilahapnya empat mangkuk berturut-turut.
"Ini
yang terakhir, Naruto!" kata Sasuke sembari menopang kepalanya dengan
sebelah tangannya. Bosan!
"Kenapa?
Uangmu habis? Mustahil!" canda Naruto sembari mengunyah makanan yang
berada dalam mulutnya.
Ya, memang
mustahil jika seorang Uchiha Sasuke kehabisan uang saku. Satu hari uang saku
Sasuke, terhitung satu minggu uang saku Naruto.
Sasuke
hanya melengos menanggapi gurauan Naruto.
"Kamu
bangga sekali. Baru menjadi peringkat 20 saja," ujar Sasuke.
"Ya ya
ya… Mr-Number-One!" sindir Naruto yang langsung dapat lirikan tajam dari
Sasuke, "Ehehehe…kenapa sih? Kau gak suka? Sekali seumur hidup membuat
temanmu senang apa susahnya, sih?"
"Tidak
jika kau tidak memerasku begini."
"Aku
tidak memeras. Ini janji! Between two real men!" ujar Naruto.
Sasuke
menarik sebuah nafas besar, lalu menghembuskannya kuat dan perlahan.
"Kenapa,
Sas?" tanya Naruto yang baru menelan suapan terakhirnya, "Kau punya
bengek?"
-oOo-
Naruto
melangkah sembari memegang sudut bibirnya yang membiru. Sesekali diliriknya
kesal pemuda yang berjalan santai seolah-olah ia baru saja diturunkan dalam wujud
seorang bayi yang tak ternodai oleh dosa.
"Kau
tak harus memukulku, kan?!" ujar Naruto.
Namun
sia-sia. Entah terbuat dari apa pita suara pemuda berambut hitam itu sehingga
bahkan untuk menjawab 'Ya' atau 'Tidak' saja rasanya sulit sekali!
Sedangkan
Sasuke terus saja tak menghiraukan ocehan dan rintihan kesakitan yang terdengar
dari sela-sela mulut Naruto. Biasa baginya. Mendengar Naruto mengeluh kesakitan
sehabis menerima hantamannya adalah hal yang wajar terjadi jika Sasuke merasa
telah dipermalukan.
Pemuda itu
menatap ke langit. Hitam. Dengan bintang-bintang yang tertabur dengan
sedemikian rupa indahnya. Meski tak ada bulan, namun cahaya mereka cukup
membuat mata Sasuke tersihir untuk menatapnya lebih lama.
Satu hari
lagi sudah terlewati. Satu hari lagi sudah ia lalui. Satu malam lagi sudah ia
masuki.
Pertanyaannya,
ada berapa malam lagi yang masih tersedia untuknya?
"Alpha
Centaury," desis Sasuke saat kedua mata hitamnya menatap satu buah bintang
yang paling bersinar di atas sana.
Satu-satunya
bintang yang terlihat paling terang, seolah sinarnya adalah sumber sinar yang
membuat bintang lainnya berpijar dengan memantulkan cahaya darinya. Memang tak
sebesar dan tak bersinar sejelas bintang Kejora.
Kecil.
Mungkin terlewatkan dari pandangan manusia. Mungkin kebanyakan orang mengagumi
indahnya sang Kejora. Namun di mata Sasuke, Alpha Centaury tampak sangat indah.
Kecil, namun bercahaya cukup terang dan jelas. Ia ingin memilikinya di saat
semua orang memuja keelokan Kejora. Ingin Sasuke menggenggamnya erat, seolah
melindungi bentuknya yang rapuh dan lemah. Namun kuat memancarkan sinar
indahnya.
Jauh sekali, batin
Sasuke dengan kepalanya yang masih menengadah. Jauh. Tak terjangkau.
Naruto
menoleh ke samping saat disadarinya bahwa omongannya kali ini tak mendapat
reaksi apa-apa. Mungkin Sasuke biasa mengacuhkannya. Tetapi, saat ia baru
memukul Naruto, membiarkan Naruto kesakitan tanpa perlu bilang Sorry,
dan kini dia dengan tega membiarkan Naruto tanpa sadar mengoceh panjang lebar
utara selatan barat timur dengan sia-sia?!!?
Pemuda
berambut pirang itu membatalkan protesannya saat melihat kedua mata Sasuke yang
menatap ke atas. Naruto mengarahkan pandangannya pula ke atas, mengikuti koordinat
pandangan Sasuke.
Bintang ya? Pikir
Naruto. Sejak kapan si Teme ini suka pada hal-hal berbau alam begini?
Pandangan
Naruto bertemu pada satu bintang. Satu bintang yang terlihat paling indah di
antara kumpulannya. Satu bintang yang berkelip jelas dengan cahayanya yang
memukau.
"Sasuke!"
ujar Naruto tanpa mengalihkan tatapannya, "Itu! Apa nama bintang
itu?" ujar Naruto sembari mengarahkan telunjuk kanannya ke atas,
"Yang kecil itu, Teme!"
"Alpha
centaury," gumam Sasuke lirih tanpa melihat ke arah yang ditunjuk telunjuk
Naruto.
-oOo-
"Tidak
bisakah kamu memberi waktu padaku lebih lama lagi?"
"………………"
"Jawab
aku!!!!"
"………………"
"JAWAB!!
BERI AKU WAKTU LEBIH LAMA!"
"Belajarlah
untuk menerima. Pahamilah arti hidupmu. Kau tak akan bisa merubah apapun jika
kau hanya menangis dan mengemis."
"ARGH!"
Satu
cetusan teriakan keluar dari mulut pemuda itu bersamaan dengan bangkitnya
tubuhnya yang berpeluh keringat dari posisi terbaringnya.
Sejenak,
diedarkan pandangannya ke sekelilingnya dengan nafas memburu, dengan degup
jantung yang seolah berlomba cepat dengan deru nafasnya.
Kamar? Di
mana sosok itu? Di mana cahaya terang itu? Di mana….
BRUK!
Tubuhnya
kembali ia hempaskan ke ranjang yang nyaman itu. Diletakkannya pergelangan
tangan kanannya ke dahinya. Dipandangnya langit-langit kamarnya yang berwarna
putih polos. Polos. Seolah-olah warna itu siap menerbangkan pikiran Sasuke.
Sasuke
memejamkan mata. Ia mencoba membayangkan kembali apa yang baru saja ia lihat
dalam mimpinya. Apa yang baru saja ia dengar di alam bawah sadarnya. Namun
sia-sia. Selalu sia-sia. Otaknya seolah sama sekali tak mampu merekam kejadian
yang terjadi di alam tidurnya.
Apa? Sasuke
tak tahu. Hanya saja, ia selalu merasa dikejar waktu. Hanya saja ia merasa
waktu berusaha menangkapnya. Dan jika ia telah benar-benar tertangkap, tak akan
ada jalan untuk kembali. Tak ada penyesalan. Tak ada apa-apa selain kata
terlambat.
Sasuke
memegang dada kirinya. Digigitnya bibir bagian bawahnya dengan getir. Pejaman
matanya kian mengerat, seolah berusaha meredam rasa pahit yang selalu melanda
jika ia berada dalam kesunyian sedemikian rupa.
Mengapa ia
harus seperti ini? Apa salahnya? Apa dosanya hingga ia harus mempunyai tubuh
ini? Tubuh lemah ini. Tubuh rapuh ini. Ia tahu, semua manusia pasti diberi
kehidupan untuk berakhir dengan kematian. Namun mengapa harus secepat ini?
Oh, banyak
sekali hal yang ingin Sasuke lakukan. Banyak sekali tujuan dan angan yang ingin
ia raih dan capai. Namun, waktu semakin mengejarnya. Semakin memojokkannya ke
sudut di mana ia tak bisa menghindar lagi. Memaksa Sasuke untuk perlahan-lahan
meninggalkan harapannya. Menjadikannya punah. Dan terlupakan.
Hidup ini
hanya bagai pertunjukkan boneka. Bukan kita yang memainkannya. Kita hanya bisa
melakukan apa yang kita bisa. Apa yang telah diberikan untuk kita.
Benarkah
itu, Kakashi? Batin Sasuke pilu saat teringat ucapan wali kelasnya
saat SMP dulu. Kenapa harus aku? Bukankah di sana ada jutaan orang yang
tak pantas untuk diberi umur panjang? Kenapa harus aku? Sedangkan di sana
banyak penyengsara sesama manusia.
Sasuke
menghela nafas.
Kenapa ia
harus memiliki tubuh ini jika Tuhan bisa menciptakan yang lebih baik? Kenapa ia
harus dilahirkan di dunia jika ia harus pergi sedemikian cepat?
Bukan takut
mati atau apa.
Sasuke
hanya takut semua impiannya hanya akan menjadi sekedar angan kosong. Semua
harapannya akan berakhir laksana debu yang bertiup di padang pasir. Hilang
sia-sia.
Sasuke
membuka matanya. Tatapannya menuju ke arah jendela kaca dengan tirai terbuka.
Dari lapisan bening itu, terlihat langit luas. Terlihat gemerlap bintang.
Terlihat pula satu bintang yang masih tampak berpijar jelas di langit atas
sana.
Alpha
Centaury.
Keajaiban.
Jauh. Tak
terjangkau.
0 komentar:
Posting Komentar